Kakawin Hariwangsa (Empu Panuluh)
Sebagai sebuah kakawin, Hariwangsa ditulis dengan aturan metrum, yaitu aturan irama dan jumlah suku kata dalam setiap baris puisi. Aturan ini dapat di analogikan sederhananya seperti ketukan dalam lagu. Jika ketukan tidak tepat maka iramanya akan terasa janggal. Karena itu, penulisan kakawin menuntut ketelitian tinggi dan penguasaan bahasa yang mendalam, sehingga hanya orang-orang tertentu yang mampu menulisnya dengan baik.
Kedudukan sastra seperti Hariwangsa sangat penting terlebih pada masa Kerajaan Kediri. Sastra menjadi media utama dalam pendidikan moral, karena pada masa itu belum banyak aturan tertulis yang dapat diakses masyarakat luas. Nilai-nilai kehidupan lebih mudah tersalurkan melalui cerita, tokoh, dan simbol yang dapat mudah dipahami dan diingat.
Karya Hariwangsa ditulis pada masa Kerajaan Kediri di bawah pemerintahan Raja Jayabaya, seorang raja yang dikenal mendukung perkembangan sastra dan kehidupan keagamaan serta dianggap sebagai "pelindung sastra". Pada masa Raja Jayabaya, istana menjadi pusat kegiatan intelektual, tempat para pujangga menghasilkan karya-karya sastra bermutu tinggi. Lingkungan yang kondusif ini memungkinkan lahirnya kakawin-kakawin penting dalam sejarah sastra Jawa Kuno.
Pengarang kakawin Hariwangsa adalah Empu Panuluh. Empu Panuluh merupakan seorang pujangga istana, yaitu seorang intelektual yang berperan menulis dan menyusun karya sastra untuk kepentingan bagi Kerajaan Kediri. Ia tidak hanya berperan sebagai penulis cerita, tetapi melalui mahakarya nya juga sebagai penyampai nilai moral, keagamaan, dan pandangan hidup yang dianut pada masanya.
Gelar “Empu” atau “Mpu” bukanlah nama yang terikat dari lahir, melainkan gelar kehormatan yang diberikan karena keahliannya. Gelar ini diberikan kepada seseorang yang dianggap memiliki keahlian tinggi, baik dalam bidang sastra, filsafat, keagamaan, maupun pengetahuan spiritual. Tidak semua penulis bisa disebut empu; hanya mereka yang diakui keilmuannya dan jasanya bagi kerajaan yang memperoleh gelar tersebut. Karena itu, gelar Empu menunjukkan kedudukan sosial dan intelektual yang sangat tinggi pada masa Kerajaan Kediri bagi pujangga.
Sebagai orang yang disematkan gelar "empu", Empu Panuluh memiliki peran dan tanggung jawab besar dalam menyusun karya sastra yang tidak hanya indah secara bahasa, tetapi juga bermakna secara isi. Karyanya harus mampu mencerminkan nilai-nilai keagamaan, mengajarkan etika, serta mendukung pandangan politik dan budaya kerajaan. Hal ini menunjukkan bahwa peran empu sebenarnya jauh lebih luas daripada sekadar pengarang cerita.
Secara keseluruhan, Hariwangsa merupakan karya sastra yang mencerminkan tingginya kedudukan karya sastra pada masa Kerajaan Kediri. Karya ini mengandung nilai sastra, moral, keagamaan, dan politik sekaligus. Melalui Hariwangsa dan peran Empu Panuluh sebagai empu, dapat terlihat bahwa sastra Jawa Kuno merupakan bagian penting dalam pembentukan kehidupan masyarakat dan kerajaan pada masa lampau.
Comments
Post a Comment