Kakawin Hariwangsa (Empu Panuluh)

 

Hariwangsa merupakan salah satu karya penting dan sangat bermakna dalam tradisi sastra Jawa Kuno yang berbentuk kakawin. Karya ini lahir pada masa Kerajaan Kediri, sebuah periode ketika sastra memiliki kedudukan yang sangat tinggi atau bisa dibilang sangat dihormati dalam kehidupan kerajaan dan masyarakat. Sastra pada masa itu tidak hanya berfungsi sebagai hiburan semata, melainkan juga sebagai sarana pendidikan moral, penyampaian nilai nilai keagamaan, serta penguatan kewibawaan raja.




Secara umum, Hariwangsa merupakan kakawin yang bersumber dari Epos India (kisah kepahlawanan dari India Kuno), khususnya Mahabharata. Namun, cerita ini tidak disalin secara langsung dari kisah Epos India, akan tetapi kisahnya menginspirasi dan diolah serta disesuaikan dengan budaya, nilai, juga pandangan hidup masyarakat Jawa masa itu. Penyesuaian ini yang membuat Hariwangsa menjadi karya sastra yang relevan dengan kondisi sosial dan politik Kerajaan Kediri pada masa itu.



Nilai utama yang banyak muncul dalam Hariwangsa adalah dharma. Dharma dapat dipahami sebagai kewajiban moral untuk berperilaku benar, adil, dan bertanggung jawab. Melalui alur cerita dan tindakan tokoh-tokohnya, kakawin ini mengajarkan bahwa kekuasaan dan kekuatan harus dipergunakan sebijak bijaknya untuk menjaga kebenaran, bukan untuk kepentingan pribadi.




Sebagai sebuah kakawin, Hariwangsa ditulis dengan aturan metrum, yaitu aturan irama dan jumlah suku kata dalam setiap baris puisi. Aturan ini dapat di analogikan sederhananya seperti ketukan dalam lagu. Jika ketukan tidak tepat maka iramanya akan terasa janggal. Karena itu, penulisan kakawin menuntut ketelitian tinggi dan penguasaan bahasa yang mendalam, sehingga hanya orang-orang tertentu yang mampu menulisnya dengan baik.



Kedudukan sastra seperti Hariwangsa sangat penting terlebih pada masa Kerajaan Kediri. Sastra menjadi media utama dalam pendidikan moral, karena pada masa itu belum banyak aturan tertulis yang dapat diakses masyarakat luas. Nilai-nilai kehidupan lebih mudah tersalurkan melalui cerita, tokoh, dan simbol yang dapat mudah dipahami dan diingat.



Selain dari fungsinya dalam pendidikan moral, sastra juga memiliki fungsi pada bidang politik pada masa itu. Raja pada masa Jawa Kuno dipandang sebagai wakil kekuatan ilahi yang ada di dunia. Dengan menghadirkan tokoh Sri Kresna sebagai pemimpin ideal, Hariwangsa secara tidak langsung menggambarkan citra raja yang diharapkan yaitu raja yang adil, bijaksana, dan taat pada dharma. Dengan demikian, sastra berperan dalam memperkuat legitimasi dan kewibawaan kekuasaan raja yang memimpin.






Karya Hariwangsa ditulis pada masa Kerajaan Kediri di bawah pemerintahan Raja Jayabaya, seorang raja yang dikenal mendukung perkembangan sastra dan kehidupan keagamaan serta dianggap sebagai "pelindung sastra". Pada masa Raja Jayabaya, istana menjadi pusat kegiatan intelektual, tempat para pujangga menghasilkan karya-karya sastra bermutu tinggi. Lingkungan yang kondusif ini memungkinkan lahirnya kakawin-kakawin penting dalam sejarah sastra Jawa Kuno.



Pengarang kakawin Hariwangsa adalah Empu Panuluh. Empu Panuluh merupakan seorang pujangga istana, yaitu seorang intelektual yang berperan menulis dan menyusun karya sastra untuk kepentingan bagi Kerajaan Kediri. Ia tidak hanya berperan sebagai penulis cerita, tetapi melalui mahakarya nya juga sebagai penyampai nilai moral, keagamaan, dan pandangan hidup yang dianut pada masanya.




Gelar “Empu” atau “Mpu” bukanlah nama yang terikat dari lahir, melainkan gelar kehormatan yang diberikan karena keahliannya. Gelar ini diberikan kepada seseorang yang dianggap memiliki keahlian tinggi, baik dalam bidang sastra, filsafat, keagamaan, maupun pengetahuan spiritual. Tidak semua penulis bisa disebut empu; hanya mereka yang diakui keilmuannya dan jasanya bagi kerajaan yang memperoleh gelar tersebut. Karena itu, gelar Empu menunjukkan kedudukan sosial dan intelektual yang sangat tinggi pada masa Kerajaan Kediri bagi pujangga.


Sebagai orang yang disematkan gelar "empu", Empu Panuluh memiliki peran dan tanggung jawab besar dalam menyusun karya sastra yang tidak hanya indah secara bahasa, tetapi juga bermakna secara isi. Karyanya harus mampu mencerminkan nilai-nilai keagamaan, mengajarkan etika, serta mendukung pandangan politik dan budaya kerajaan. Hal ini menunjukkan bahwa peran empu sebenarnya jauh lebih luas daripada sekadar pengarang cerita.


Secara keseluruhan, Hariwangsa merupakan karya sastra yang mencerminkan tingginya kedudukan karya sastra pada masa Kerajaan Kediri. Karya ini mengandung nilai sastra, moral, keagamaan, dan politik sekaligus. Melalui Hariwangsa dan peran Empu Panuluh sebagai empu, dapat terlihat bahwa sastra Jawa Kuno merupakan bagian penting dalam pembentukan kehidupan masyarakat dan kerajaan pada masa lampau.

Comments

Popular posts from this blog

Boeing 787 Dreamliner

Resensi Novel